Menurut Helius Sjamsudin dalam bukunya berjudul “Metodologi
Sejarah” tahun 2007 halam 102-103, sejarah lisan yaitu ingatan pertama yang
dituturkan secara lisan oleh orang-orang yang diwawancarai oleh sejarawan. Seorang
veteran perang kemerdekaan indonesia atau diplomat yang aktif dalam perundingan
dengan Belanda misalnya, mereka adalah produk sumber sejarah lisan.
Sejarah lisan ini banyak digunakan
di Inggris dan negara-negara barat lainnya terutama untuk sejarah sosial sejak
tahun 1960-an (Tosh, 1984 :172). Tetapi di Indonesia tidak terbatas untuk
sejarawan sosial saja tetapi juga sejarah politik dan lisan ini dikelola oleh
arsip nasional di Jakarta.
Sebagaimana halnya masyarakat Melayu dan Filipina, pandangan mengenai masyarakat Jawa yang malas menjadi semakin kuat dan meluas sejak kekuasaan colonial Belanda atas pulau tersebut berkembang. Menjelang abad ke-19 khususnya setelah diterapkan system tanah paksa oleh Van Den Bosch, gagasan tentang masyarakat Jawa yang malas tampil dengan lebih mencolok dalam perdebatan antara golongan liberal dengan konservatif. Citra tentang masyarakat jawa yang malas tetap hidup sesudah itu dalam pikiran para penulis lain. Maka pada thun 1904, sejarawan ekonomi Clive Day, yang mengomentari situasi pada akhir abad ke 19, memberikan kesan sebagai berikut : “ Golongan pribumi yang tidak memiliki tanah maupun perdagangan yang mendukung mereka, dan yang menyewakannya kepada pihak-pihak lain tidak banyak jumlahnya, dan diserap kedalam organisasi desa setempat yang banyak sekali. Tingkat hidup-hidup rata-rata petani kelihatan rendah sekali jika diukur menurut standard barat.
Comments
Post a Comment